Selamat datang di dunia nyata, kawan!
Akhir-akhir ini beberapa orang adik kelas yang belum lama memasuki dunia kerja menyampaikan keluhan-keluhan melalui multiplynya.
Keluhan-keluhan tersebut berkisar mengenai perbedaan yang cukup kontras antara dunia kampus dan dunia kerja. Bukan hanya suasana kantornya, tetapi juga rekan2 mereka yang mulai berubah dibandingkan dulu ketika aktif di kampus.
Mulai dari komitmen terhadap waktu yang kian memudar dengan acara2 yang molor padahal ngejar waktu di pemindai sidik jari aja bisa, cara berpakaian yang terlalu menampakkan yang harusnya ditutupi, bahkan persepsi terhadap penghasilan yang tidak pernah cukup padahal banyak saudara kita yang hidup dengan penghasilan beberapa kali lebih kecil dari penghasilan mereka.
Hal-hal seperti ini biasanya menyebar dan menular. Misalnya tentang komitmen terhadap waktu. Mungkin pertama2 masih sangat rajin, kemudian ketika dia tepat waktu ternyata baru sendirian yang datang, berangsur2 akan menjadi malas.
Lalu tentang pakaian, mula2 mungkin masih tertutup rapat dan dijaga baik, tetapi melihat seniornya yang dulu di kampus lebih aktifis tapi sekarang malah lebih buka2an, akhirnya berangsur2 ikut buka2an.
Lalu tentang penghasilan, mungkin mula2 masih bisa hidup sederhana tapi karena pergaulan, sering diajak ini itu, ditawari barang ini itu, berangsur2 menjadi konsumtif juga.
Sahabatku, disinilah kita diuji, apakah kita akan terbawa arus begitu saja ataukah kita mampu berpegang teguh kepada prinsip yang kita perjuangkan.
Jangan jadikan orang lain sebagai alasan atau pembenaran.
Tapi bukan berarti kita menjadi kaku, ekstrim, atau radikal. Kita tetap harus fleksibel, luwes, dan bermain dengan cantik tanpa meninggalkan prinsip-prinsip yang kita perjuangkan.
Jadi, selamat datang di dunia nyata, kawan!
Keluhan-keluhan tersebut berkisar mengenai perbedaan yang cukup kontras antara dunia kampus dan dunia kerja. Bukan hanya suasana kantornya, tetapi juga rekan2 mereka yang mulai berubah dibandingkan dulu ketika aktif di kampus.
Mulai dari komitmen terhadap waktu yang kian memudar dengan acara2 yang molor padahal ngejar waktu di pemindai sidik jari aja bisa, cara berpakaian yang terlalu menampakkan yang harusnya ditutupi, bahkan persepsi terhadap penghasilan yang tidak pernah cukup padahal banyak saudara kita yang hidup dengan penghasilan beberapa kali lebih kecil dari penghasilan mereka.
Hal-hal seperti ini biasanya menyebar dan menular. Misalnya tentang komitmen terhadap waktu. Mungkin pertama2 masih sangat rajin, kemudian ketika dia tepat waktu ternyata baru sendirian yang datang, berangsur2 akan menjadi malas.
Lalu tentang pakaian, mula2 mungkin masih tertutup rapat dan dijaga baik, tetapi melihat seniornya yang dulu di kampus lebih aktifis tapi sekarang malah lebih buka2an, akhirnya berangsur2 ikut buka2an.
Lalu tentang penghasilan, mungkin mula2 masih bisa hidup sederhana tapi karena pergaulan, sering diajak ini itu, ditawari barang ini itu, berangsur2 menjadi konsumtif juga.
Sahabatku, disinilah kita diuji, apakah kita akan terbawa arus begitu saja ataukah kita mampu berpegang teguh kepada prinsip yang kita perjuangkan.
Jangan jadikan orang lain sebagai alasan atau pembenaran.
Tapi bukan berarti kita menjadi kaku, ekstrim, atau radikal. Kita tetap harus fleksibel, luwes, dan bermain dengan cantik tanpa meninggalkan prinsip-prinsip yang kita perjuangkan.
Jadi, selamat datang di dunia nyata, kawan!

Komentar