FAMILY GATHERING KEMENKEU: IRONIS!!
dikutip dari:
http://intrabppk.depkeu.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1173%3Afamily-gathering-kemenkeu-ironis&catid=72%3Aartikel&Itemid=53
Acara Family Gathering Kementerian Keuangan yang akan diselenggarakan di Plaza Barat Senayan pada 31 Oktober 2010 patut dicermati sebagai sesuatu yang IRONIS. Dalam surat Sekretaris Bapepam-LK nomor S-964/BL.01/UP.12/2010 tanggal 18 Oktober 2010 tentang Family Gathering Kementerian Keuangan yang ditujukan kepada para Kepala Biro Setjen dan para Sekretaris Ditjen/Badan/Itjen disebutkan bahwa: "Pengadaan Kaos dan Topi bagi para peserta Family Gathering Kementerian Keuangan menjadi tanggung jawab masing-masing unit eselon I ..." Kuota peserta dari BPPK adalah 500 orang.
http://intrabppk.depkeu.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1173%3Afamily-gathering-kemenkeu-ironis&catid=72%3Aartikel&Itemid=53
Acara Family Gathering Kementerian Keuangan yang akan diselenggarakan di Plaza Barat Senayan pada 31 Oktober 2010 patut dicermati sebagai sesuatu yang IRONIS. Dalam surat Sekretaris Bapepam-LK nomor S-964/BL.01/UP.12/2010 tanggal 18 Oktober 2010 tentang Family Gathering Kementerian Keuangan yang ditujukan kepada para Kepala Biro Setjen dan para Sekretaris Ditjen/Badan/Itjen disebutkan bahwa: "Pengadaan Kaos dan Topi bagi para peserta Family Gathering Kementerian Keuangan menjadi tanggung jawab masing-masing unit eselon I ..." Kuota peserta dari BPPK adalah 500 orang.
Mari mulai cermati sisi IRONIS kegiatan ini:
1. Darimana dana pengadaan Kaos dan Topi?
2. Darimana dana sewa Plaza Barat Senayan?
3. Adakah mata anggaran tertentu untuk membiayainya?
Jawaban detail atas pertanyaan itu mungkin sulit kita dapat dengan pasti. Sumber dananya tidak tahu; mudah-mudahan urunan. Tapi kalau bukan urunan, alangkah kasihan temen-temen di Bagian Umum, Subbag TU, ataupun Sekretariat STAN.
Melihat tanggal suratnya, 18 Oktober, saat surat itu ditulis bencana di Wasior sudah terjadi. Hanya gelisah yang menyelimuti pikiran ini. Jika mentalitas kita masih seperti ini, maka sangat wajar jika bencana tak kunjung henti. rupanya hati mati membutakan mata dari jalan-Nya. Puisi yang kutulis sepuluh tahun lalu, mungkin bisa ingatkan kita:
BATUHATI
batubata
bikinkau : Kaya?
batuaji
bikinkau : sakti?
batuhatiku : Butakan mata
Buntungi jemari
Belenggu kakikaki : dari jalan-Mu.
(Ganti L.A., Juni 2000)
Akhirnya, mungkin perlu kita renungkan kembali kehadiran kita di acara itu. Renungkan juga Mentawai dan Merapi. Akankah kita tetap menyebutnya sebagai COBAAN atau saatnya kita sebut sebagai HUKUMAN? Wallaahu a'lamu bi al-shawab. GTi.

Komentar
sipp gan