Lingga, Kepulauan Riau
Mau cerita dikit nih bro and sis tentang perjalanan ane ke Daik, Lingga, Kepulauan Riau. Ane ke sana juga sebenarnya dalam rangka kerja berdua sama temen ane, tapi cukup seru juga sih menurut ane.
Perjalanan dimulai hari kamis (14/10) pagi dari bandara Soekarno Hatta jam 6 ke Batam. Nyampe Batam setengah 8, terus dilanjutkan naik taksi ke pelabuhan Danau Punggur. Di sini taksinya meskipun ada argo tapi nggak dipakai argonya karena untuk tarif emang udah ada kesepakatan antar para sopirnya, kata temen kalau ada yang lebih mahalin 5 ribu aja pasti dicariin tuh sama temen2nya. Dari bandara Hang Nadim Batam ke Pelabuhan Punggur tarifnya 70 ribu.
Nyampe pelabuhan belum jam 8 (cepet juga sih, kata temenku biasanya setengah jam, tadi sopirnya pembalap banget). Jadi kalau biasanya naik kapal yang jam 9 kami bisa naik yang jam 8. Kapalnya dari batam ke Tanjung Pinang, Ibukota Propinsi Kepulauan Riau. Selama perjalanan, meski di tengah laut tapi sinyal hape tetep ada, bahkan buat operator minoritas kayak punya nomer ane juga masih dapet sinyalnya.
Sekitar jam 9 kami nyampe Tanjung Pinang, terus beli tiket kapal lagi ke Daik, ibukota Kabupaten Lingga. Karena kapalnya berangkat baru jam 11, maka kami bisa jalan2 dulu di Tanjung Pinang. Nggak jauh-jauh sih, cuma keluar pelabuhan jalan dikit belok kiri terus belok kanan kebetulan ada rumah makan makanan khas Tanjung Pinang yaitu Mie Lendir. Mie Lendir dari penampakannya seperti Mie Ongklok Wonosobo atau Spaghetti tapi kalau Mie Ongklok kuahnya bening, Spaghetti kuahnya merah atau putih, Mie Lendir ini kuahnya berwarna coklat karena pakai bumbu kacang. Rasanya lumayan juga, apalagi dipadukan dengan otak-otak khas Tanjung Pinang, yang selain dari ikan tengiri juga dicampur potongan cumi atau sotong. Untuk minumnya kami pesan teh obeng. Teh obeng ini bukan teh cap obeng atau diaduknya pake obeng, tapi cuma sebutan di daerah situ untuk es teh.
Mie lendir pakai telor Rp 10.000/porsi
Otak2 ikan cumi Rp 6000/10 pcs
Teh obeng Rp. 500/porsi
Setelah puas makan kami lanjutkan perjalanan menuju Daik. Ternyata di sini ada yang unik. Di kapal kami menemukan ada transaksi pedagang makanan dengan orang yang berbahasa mandarin menggunakan mata uang bukan rupiah, tetapi dolar singapura. Memang menurut teman perjalanan kami satu kapal, di Kepri juga secara praktek berlaku mata uang dolar singapura selain rupiah sebagai alat tukar. Bahkan dulu, jaman 70-an, transaksi dengan dolar singapura lebih mendominasi dibandingkan dengan rupiah.
Perjalanan kapal yang kedua ini kami tempuh cukup lama, yaitu 5 Jam! tapi banyak berhenti di beberapa pulau untuk menaik-turunkan penumpang. 2 jam pertama sinyal telepon seluler masih bagus, karena jarak masing2 pulau yang berdekatan. Tetapi setelah itu sudah tidak ada sinyal sama sekali. Baru pada pulau Singkep, pemberhentian terakhir sebelum sampai ke Daik ada sinyal lagi. itu pun cuma dua operator terbesar di negeri ini.
Sekitar jam 4 sore kami berlabuh di Daik. Di pelabuhan sudah ada yang menjemput dan mengantarkan kami ke penginapan yang sudah dipesankan. Sampai penginapan kami istirahat sebentar kemudian cari makan di sekitar situ. Kami makan di warung padang, tetapi nggak seperti di Jawa yang nasi padangnya khas dengan sayur nangka dan lalapan daun singkong sambal hijau, di sini sayurnya daun singkong dilodeh. Nasi padang sama ayam Rp.15000 per orang. Cukup mahal mungkin karena di pulau, susah nyari ayamnya.
Selesai makan, dalam perjalanan menuju penginapan kami disuguhi pemandangan yang cukup menarik, ada sekawanan elang terbang di atas sungai, jumlahnya ada sekitar 30-an ekor. Sesekali satu atau dua ekor menukik ke sungai, mencekupkan kakinya ke air dan terbang lagi ke atas sungai dan berputar-putar disana.
Malamnya kami tidur cukup pulas karena kecapean perjalanan seharian. Paginya sebelum beraktivitas kami sarapan di warung kopi depan hotel. Kami makan nasi uduk dengan porsi seperti nasi kucing di jawa, dengan lauk ikan sambal goreng. Juga ada kue-kue jajanan pasar. Nasi uduk 2000/bungkus, kue 1000/buah.
Terus habis itu kerja deh...
bersambung.
Foto2 menyusul.
Perjalanan dimulai hari kamis (14/10) pagi dari bandara Soekarno Hatta jam 6 ke Batam. Nyampe Batam setengah 8, terus dilanjutkan naik taksi ke pelabuhan Danau Punggur. Di sini taksinya meskipun ada argo tapi nggak dipakai argonya karena untuk tarif emang udah ada kesepakatan antar para sopirnya, kata temen kalau ada yang lebih mahalin 5 ribu aja pasti dicariin tuh sama temen2nya. Dari bandara Hang Nadim Batam ke Pelabuhan Punggur tarifnya 70 ribu.
Nyampe pelabuhan belum jam 8 (cepet juga sih, kata temenku biasanya setengah jam, tadi sopirnya pembalap banget). Jadi kalau biasanya naik kapal yang jam 9 kami bisa naik yang jam 8. Kapalnya dari batam ke Tanjung Pinang, Ibukota Propinsi Kepulauan Riau. Selama perjalanan, meski di tengah laut tapi sinyal hape tetep ada, bahkan buat operator minoritas kayak punya nomer ane juga masih dapet sinyalnya.
Sekitar jam 9 kami nyampe Tanjung Pinang, terus beli tiket kapal lagi ke Daik, ibukota Kabupaten Lingga. Karena kapalnya berangkat baru jam 11, maka kami bisa jalan2 dulu di Tanjung Pinang. Nggak jauh-jauh sih, cuma keluar pelabuhan jalan dikit belok kiri terus belok kanan kebetulan ada rumah makan makanan khas Tanjung Pinang yaitu Mie Lendir. Mie Lendir dari penampakannya seperti Mie Ongklok Wonosobo atau Spaghetti tapi kalau Mie Ongklok kuahnya bening, Spaghetti kuahnya merah atau putih, Mie Lendir ini kuahnya berwarna coklat karena pakai bumbu kacang. Rasanya lumayan juga, apalagi dipadukan dengan otak-otak khas Tanjung Pinang, yang selain dari ikan tengiri juga dicampur potongan cumi atau sotong. Untuk minumnya kami pesan teh obeng. Teh obeng ini bukan teh cap obeng atau diaduknya pake obeng, tapi cuma sebutan di daerah situ untuk es teh.
Mie lendir pakai telor Rp 10.000/porsi
Otak2 ikan cumi Rp 6000/10 pcs
Teh obeng Rp. 500/porsi
Setelah puas makan kami lanjutkan perjalanan menuju Daik. Ternyata di sini ada yang unik. Di kapal kami menemukan ada transaksi pedagang makanan dengan orang yang berbahasa mandarin menggunakan mata uang bukan rupiah, tetapi dolar singapura. Memang menurut teman perjalanan kami satu kapal, di Kepri juga secara praktek berlaku mata uang dolar singapura selain rupiah sebagai alat tukar. Bahkan dulu, jaman 70-an, transaksi dengan dolar singapura lebih mendominasi dibandingkan dengan rupiah.
Perjalanan kapal yang kedua ini kami tempuh cukup lama, yaitu 5 Jam! tapi banyak berhenti di beberapa pulau untuk menaik-turunkan penumpang. 2 jam pertama sinyal telepon seluler masih bagus, karena jarak masing2 pulau yang berdekatan. Tetapi setelah itu sudah tidak ada sinyal sama sekali. Baru pada pulau Singkep, pemberhentian terakhir sebelum sampai ke Daik ada sinyal lagi. itu pun cuma dua operator terbesar di negeri ini.
Sekitar jam 4 sore kami berlabuh di Daik. Di pelabuhan sudah ada yang menjemput dan mengantarkan kami ke penginapan yang sudah dipesankan. Sampai penginapan kami istirahat sebentar kemudian cari makan di sekitar situ. Kami makan di warung padang, tetapi nggak seperti di Jawa yang nasi padangnya khas dengan sayur nangka dan lalapan daun singkong sambal hijau, di sini sayurnya daun singkong dilodeh. Nasi padang sama ayam Rp.15000 per orang. Cukup mahal mungkin karena di pulau, susah nyari ayamnya.
Selesai makan, dalam perjalanan menuju penginapan kami disuguhi pemandangan yang cukup menarik, ada sekawanan elang terbang di atas sungai, jumlahnya ada sekitar 30-an ekor. Sesekali satu atau dua ekor menukik ke sungai, mencekupkan kakinya ke air dan terbang lagi ke atas sungai dan berputar-putar disana.
Malamnya kami tidur cukup pulas karena kecapean perjalanan seharian. Paginya sebelum beraktivitas kami sarapan di warung kopi depan hotel. Kami makan nasi uduk dengan porsi seperti nasi kucing di jawa, dengan lauk ikan sambal goreng. Juga ada kue-kue jajanan pasar. Nasi uduk 2000/bungkus, kue 1000/buah.
Terus habis itu kerja deh...
bersambung.
Foto2 menyusul.

Komentar