Leftovers
Sering kali kita menyaksikan piring yang telah melaksanakan tugas sebagai alas makan ternyata masih meninggalkan sisa-sisa makanan. Kadang cuma beberapa butir nasi atau sedikit daging menempel di tulang yang memang susah untuk diambil, atau batang sayur yang keras, susah dimakan. Kalau itu sih masih dianggap wajar lah.
Namun ketika nasi yang tertinggal itu tidak lagi cuma beberapa butir, tetapi masih banyak, atau lauk yang hanya digigit sekali terus ditinggalkan, kok rasanya sayang ya ada makanan tersia siakan seperti itu. Mungkin ada yang menganggap saya lebay atau alay atau "hemat, beib" (versi iklan salah satu operator telekomunikasi).
Tapi yang melakukan itu saya lihat tidak sedikit, memang sih nggak sempat melakukan penelitian berapa persen yang menyisakan makanan atau berapa rata2 makanan yang disisakan, tapi kita coba saja kira-kira.
Kita anggap saja makanan yang disisakan sebanyak 20 gram sehari, dan yang menyisakan makanan 5% saja dari semua penduduk. Kalau dihitung di Indonesia saja dengan penduduk sekitar 200 juta maka jumlah yang tersia-siakan adalah 20 gram X 5% X 200 juta = 200 juta gram atau 200 ton!
Bayangkan, makanan seberat 200 ton tersia-siakan. bisa memberi makan berapa orang tuh... Atau kalau dikonversikan ke dalam energi, maka 2 ton akan menjadi 800 juta kalori atau 930.222,222 kWh atau 1.247.448.333.408 HPh. Energi sebanyak itu bisa:
- menyuplai listrik 1435 rumah tipe R2 (900 watt) selama sebulan nonstop
- menjalankan 114.380.594 sepeda motor sepeda motor selama sebulan nonstop
Gimana, sayang kan? apalagi di negara kita masih banyak orang miskin yang masih belum tahu hari esok mau makan dari mana, masih sering terjadi krisis energi, listrik sering padam, BBM yang langka, dsb.
Marilah kita mulai dari diri kita jangan menyia-nyiakan apapun. Dalam hal makanan, jika memang tidak kuat menghabiskan ya jangan ambil terlalu banyak. Jika beli di warung ya minta dikurangi porsinya. Jika makanannya ternyata nggak enak ya tetep harus dihabiskan, derita lo!
Namun ketika nasi yang tertinggal itu tidak lagi cuma beberapa butir, tetapi masih banyak, atau lauk yang hanya digigit sekali terus ditinggalkan, kok rasanya sayang ya ada makanan tersia siakan seperti itu. Mungkin ada yang menganggap saya lebay atau alay atau "hemat, beib" (versi iklan salah satu operator telekomunikasi).
Tapi yang melakukan itu saya lihat tidak sedikit, memang sih nggak sempat melakukan penelitian berapa persen yang menyisakan makanan atau berapa rata2 makanan yang disisakan, tapi kita coba saja kira-kira.
Kita anggap saja makanan yang disisakan sebanyak 20 gram sehari, dan yang menyisakan makanan 5% saja dari semua penduduk. Kalau dihitung di Indonesia saja dengan penduduk sekitar 200 juta maka jumlah yang tersia-siakan adalah 20 gram X 5% X 200 juta = 200 juta gram atau 200 ton!
Bayangkan, makanan seberat 200 ton tersia-siakan. bisa memberi makan berapa orang tuh... Atau kalau dikonversikan ke dalam energi, maka 2 ton akan menjadi 800 juta kalori atau 930.222,222 kWh atau 1.247.448.333.408 HPh. Energi sebanyak itu bisa:
- menyuplai listrik 1435 rumah tipe R2 (900 watt) selama sebulan nonstop
- menjalankan 114.380.594 sepeda motor sepeda motor selama sebulan nonstop
Gimana, sayang kan? apalagi di negara kita masih banyak orang miskin yang masih belum tahu hari esok mau makan dari mana, masih sering terjadi krisis energi, listrik sering padam, BBM yang langka, dsb.
Marilah kita mulai dari diri kita jangan menyia-nyiakan apapun. Dalam hal makanan, jika memang tidak kuat menghabiskan ya jangan ambil terlalu banyak. Jika beli di warung ya minta dikurangi porsinya. Jika makanannya ternyata nggak enak ya tetep harus dihabiskan, derita lo!

Komentar